Krisis Multidimensi di Era Global: Al-Qur'an sebagai Solusi Preventif dan Kuratif


Istilah yang lazim adalah “lebih baik mencegah dari pada mengobati”. Istilah tersebut berkaitan erat dengan tema pokok yang dibahas dalam tulisan ini. Hasbi Indra dalam artikelnya yang berjudul taman pendidikan al-qur’an berbasis pendidikan manusia mengemukakan bahwa era globalisasi telah membuka ruang terjadinya gesekan antara nilai-nilai budaya dan agama di seluruh dunia yang memanfaatkan jasa komunikasi transformasi dan informasi sebagai hasil dari modernisasi teknologi. Globalisasi dapat dianggap menjadi ancaman, melalui berbagai media, seseorang dapat menyaksikan hiburan porno dari kamar tidurnya tanpa ada yang mengusiknya. Seseorang dapat terpengaruh oleh segala macam bentuk iklan yang sangat konsumtif. 
Mempedomani al-Qur’an merupakan langkah yang sehat, utama dan tepat dalam segala aspek kehidupan sebelum menggunakan referensi-referinsi lain yang relevan dan memang sangat layak digunakan. Perkembangan teknologi dan perubahan peradaban pada era globalisasi melanda dunia saat ini telah menimbulkan krisis multidimensi sehingga diperlukan kegiatan pelayanan untuk penjangkauan jiwa-jiwa yang perlu diselamatkan. Kegiatan pelayanan ini merupakan penggenapan tugas yang dijewantahkan Allah melalui utusan-Nya yang diperuntukkan bagi keselamatan seluruh umat manusia.
Terkait dengan gagasan tersebut, maka jalan utama yang dapat ditempuh adalah penerimaan terhadap al-Qur’an yang perwujudan seluruh nilai-nilainya ditunjukkan dalam segala aspek kehidupan umat manusia umumnya dan masyarakat yang ada di Indonesia khsusunya Krisis multidimensi yang terjadi dalam kehidupan umat manusia saat ini seakan sudah akut dan menjadi persoalan pelik yang perlu untuk segera dicari solusinya. 
Krisis multidimensi ini mencakup seluruh aspek kehidupan, seperti: krises ekonomi, pangan, hukum, social,lingkungan hidup, hutan tereksplorasi secara kuat dan terutama krisis akhlak. Setiap orang pada setiap hari disuguhi berita tentang tindakan kekerasan, kriminal dan amoral anak manusia.Allah Swt. sudah menurunkan kitab suci al-Qur’an kepada Rasululah saw. disertai kebenaran yang berkenaan dengan apa saja yang terkandung di dalamnya, juga membenarkan isi kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah swt. sebelum al-Qur’an, yakni kitab-kitab Allah swt. yang diberikan kepada para nabi sebelum Rasulullah saw. diutus ke muka bumi ini. Allah Swt. sendiri turut juga menjaga kemurniannya dengan cara menjadikan kalimat-kalimat dalam al-Qur’an itu benar-benar mudah diingat, dihafal, dan difahami. Oleh karena itu, al-Qur’an sengaja diwahyukan dengan suatu gaya bahasa yang istimewa, mudah, tidak sukar bagi siapapun untuk memahaminya, tidak sulit dihafalkan, dan tidak sukar diamalkan dengan syarat disertai keikhlasan dan kemauan yang kuat. 
Bahwa manfaat kandungan al-Qur’an lebih segar dan lebih lezat dibandingkan air dingin dan manis bagi orang yang sangat kehausan, lebih lembut dari angin yang bertiup sepoi-sepoi di taman, ia merupakan cahaya yang bersinar di setiap jalan kehidupan orang-orang mukmin agar mereka sampai pada hamparan ketenangan yang nyata dan bahagia.Al-Qur’an adalah sebuah kitab yang harus dibaca, bahkan dianjurkan untuk dijadikan sebagai bacaan harian, membacanya dinilai Allah Swt. sebagai ibadah. Pahala yang diberikan Allah Swt. bukan dihitung perkata atau perayat namun perhuruf. Oleh karena itu, gagasan mempedomani al-Qur’an dengan tujuan untuk mencegah terjadinya krisis multidemensi yang terjadi saat ini tidaklah berlebihan bahkan sangatlah wajar. Konsep dan gagasan yang termaktub dalam pendahuluan inilah yang menarik peneliti untuk mengetahui lebih jauh tentang mempedomani al-qur’an dalam mencegah terjadinya krisis multidimensi kehidupan masyarakat di Indonesia dan dimanapun dewasa ini.

0 Comments