Al-Qur'an sebagai pedoman hidup umat Muslim, tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga memberikan panduan lengkap mengenai berbagai aspek kehidupan, termasuk bagaimana menjadi seorang Muslim yang produktif. Produktivitas dalam Islam bukan sekadar menghasilkan sesuatu yang bernilai materi, tetapi juga mencakup dimensi spiritual dan sosial.Menjadi Muslim yang produktif dalam perspektif Al-Qur'an adalah sebuah proses yang holistik, mencakup aspek spiritual, personal, dan sosial.
Dengan berlandaskan iman dan taqwa, memanfaatkan waktu dengan bijak, bekerja keras, dan berkontribusi positif bagi sesama, seorang Muslim dapat mencapai produktivitas yang optimal dan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Produktivitas dalam Al Qur'an dibangun dengan kesimbangan lahir batin, material
spiritual, untuk kehidupan dunia akhirat. Produktif menurut konsepsi al Qur'an adalah
manusia yang utuh, berintegritas tinggi, senantiasa berlomba meningkatkan keimanan
dan amal saleh.
(1) Produktif beramal shalih.
Dengan tadabbur dan tafakkur ayat-ayat al-Qur’an,
mendorong seseorang lebih giat beramal shalih;
ًَافِّ
ۡ
غَۡي َظ َوٱل
ۡ
َڪٰـ ِّظِّمي َن ٱل
ۡ
ِّء َوٱل
ِّء َوٱل َّض َّرآ
ُِّي َن يُنُُِِّو َن فِّى ٱل َّس َّرآ
ب َّ
ُّ
ٱل يُ َِّ
َوٱ ََّّلُ
ي َن ُمَۡ ِّسنِّي َن َع ِّن ٱلنَّا ِّس
ۡ
ٱل
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun
sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan)
orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134).
(2).Allah cinta seorang Muslim yang beramal shalih secara konsisten meski sedikit.
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun
itu sedikit.” (HR. Muslim).
Mulailah hari-hari kita dengan amalan yang konkret dan spesifik (disiplin, tertib dan
terorganisir). Dalam membaca Al-Qur’an misalnya, jika diri termasuk orang
yang waktu membacanya sangat terbatas, maka tetaplah membaca meski satu ayat
lengkap dengan maknanya.
(3) Islam sangat menekankan pemeluknya untuk hidup produktif dalam berkarya.
Islam memerintahkan dan menganjurkan pemeluknya untuk:
(a) Produktif membaca, mencatat dan menghafal, sebagaimana dijelaskan dalam
QS. Al ‘Alaq: 1-5. Allah mengajarkan manusia melalui perantaraan “membaca”.
“Ibnu Aqil Al-Hambali rahimahullah berkata, “Aku menyingkat semaksimal
mungkin waktu-waktu makan, sehingga aku memilih memakan kue kering yang
dicelup ke dalam air (dimakan sambil dibasahi) dari pada memakan roti, karena
selisih waktu mengunyahnya (waktu dalam mencelup kue dengan air lebih
pendek dari pada waktu memakan roti –tanpa dicelupkan ke dalam air-) bisa aku
gunakan untuk membaca atau menulis suatu faedah yang sebelumnya tidak aku
ketahui.” (Dzailuth Thabaqatil Hanabilah, Ibnu Rajab, 1/ 77).
(b) Berlomba dalam kebaikan. Manfaatkan waktu hidup yang sangat terbatas.
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya.
Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu
berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat).
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 148)
(c) Memanfaatkan Usia dan Rezeki Secara Produktif
“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi
Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang
umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia
gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa
(hartanya tersebut) ia belanjakan dan apa saja yang telah ia perbuat
dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. ath-Thirmidzi no. 2416, ath-Thabrani
dalam al-Mu’jam al-Kabir jilid 10 hal 8 hadits no. 9772 dan hadits ini
telah dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ashshahihah no. 946);
(d)Produktif dalam menolong orang lain (QS. Al-Maidah: 2);
(e)Produktif memanfaatkan usia di masa tua. Kita dianjurkan untuk terus
memikirkan akhirat semaksimal mungkin, karena kita tidak tahu
sampai kapan usia kita.




0 Comments