Hadits No.18 Shahih Bukhari

Hadits No.18 Shahih Bukhari

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, kita sering kali merasa terombang-ambing oleh berbagai tantangan dan godaan. Berita negatif, perselisihan, dan godaan materi seakan tak pernah berhenti menguji keimanan kita. Kondisi ini sebenarnya telah disinggung oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam salah satu haditsnya yang penuh makna.

Beliau bersabda:
"Hampir saja terjadi (suatu zaman) harta seorang muslim yang paling baik adalah kambing yang digembalakannya di puncak gunung dan tempat-tempat terpencil, dia pergi menghindar dengan membawa agamanya disebabkan takut terkena fitnah." (HR. Bukhari)

Hadits ini sering kali kita dengar, tetapi maknanya begitu dalam dan relevan dengan kondisi zaman sekarang. Lantas, apa saja pelajaran penting yang bisa kita ambil dari hadits ini?

1. Antisipasi Zaman Penuh Fitnah
Rasulullah, dengan hikmah kenabiannya, telah mengisyaratkan bahwa akan datang suatu masa di mana fitnah atau ujian keimanan merajalela. Fitnah ini bisa datang dalam berbagai bentuk, mulai dari fitnah syahwat (godaan materi dan nafsu) hingga fitnah syubhat (kerancuan pemahaman agama). Keadaan ini digambarkan begitu parah sehingga sebagian orang memilih untuk menjauh dari keramaian demi menjaga agamanya.
2. Memilih Menjauh Demi Keselamatan Iman
Perumpamaan "kambing yang digembalakan di puncak gunung dan tempat-tempat terpencil" bukanlah sekadar gambaran fisik, melainkan metafora yang kuat. Puncak gunung melambangkan tempat yang tinggi dan jauh dari keramaian, sedangkan tempat terpencil menunjukkan isolasi. Ini adalah simbol dari sikap seorang muslim yang memilih untuk menjauh dari lingkungan yang penuh dengan fitnah demi menyelamatkan agamanya.
Dalam hadits ini, menjauh bukan berarti berputus asa atau meninggalkan dakwah, melainkan sebuah strategi defensif. Ketika kondisi sosial sudah terlalu rusak dan potensi terpelesetnya iman sangat besar, pilihan untuk 'mengasingkan diri' menjadi jalan yang bijak. Ini adalah bentuk kewaspadaan tertinggi terhadap potensi kerusakan yang bisa menimpa diri sendiri.
3. Harta Terbaik Adalah Iman yang Terjaga
Rasulullah menyebutkan bahwa di zaman itu, harta terbaik bukanlah emas, perak, atau kekuasaan, melainkan kambing yang digembalakan di tempat terpencil. Mengapa demikian? Kambing di sini bukanlah sekadar ternak, melainkan simbol dari bekal hidup yang sederhana dan minim godaan. Dengan memiliki kambing dan hidup di tempat terpencil, seseorang bisa menjaga diri dari kompetisi duniawi yang berlebihan, pamer kekayaan, dan berbagai fitnah lainnya.
Pesan utamanya adalah prioritas seorang muslim haruslah pada keselamatan imannya, bukan pada akumulasi harta benda. Harta yang paling berharga adalah hati yang tenang, jiwa yang bersih, dan agama yang terjaga. Ini adalah pengingat bahwa tujuan hidup kita adalah mendapatkan keridaan Allah, bukan memuaskan nafsu duniawi semata.
4. Relevansi dengan Masa Kini
Apakah hadits ini berarti kita harus meninggalkan peradaban dan hidup di gunung? Tidak. Hadits ini lebih mengajarkan kita tentang sikap mental dan strategi hidup. Di era digital ini, 'puncak gunung' bisa diartikan sebagai batasan atau filter diri dari konten-konten negatif di media sosial, pergaulan yang buruk, atau lingkungan kerja yang penuh kecurangan. Menghindari fitnah bisa berarti:
  •  Memilih teman yang saleh dan saling mengingatkan. 
  •  Membatasi konsumsi media yang tidak bermanfaat dan hanya menimbulkan keresahan. 
  •  Menghindari majelis atau perkumpulan yang hanya berisi ghibah dan omong kosong. 
  •  Memperkuat ibadah pribadi dan hubungan dengan Allah sebagai benteng dari godaan. 

 Hadits ini adalah pengingat bahwa menjaga iman di tengah arus globalisasi dan modernisasi adalah sebuah perjuangan yang berat. Oleh karena itu, kita harus senantiasa waspada dan bijak dalam memilih jalan hidup kita. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari segala bentuk fitnah dan mengokohkan iman kita hingga akhir hayat.

0 Comments