Rasa malu atau “hayaa” merupakan salah satu karakteristik utama yang menjadi bagian integral dari iman. Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada umatnya bahwa “hayaa” adalah bagian dari iman mereka. Hadis ini ditemukan dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dan dipercayai oleh banyak ulama.
Terjemah hadis
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik bin Anas dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah dari bapaknya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berjalan melewati seorang sahabat Anshar yang saat itu sedang memberi pengarahan saudaranya tentang malu. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tinggalkanlah dia, karena sesungguhnya malu adalah bagian dari iman."
Latar belakang hadis (Asbabul Wurud)
Dalam riwayat lain, dijelaskan bahwa sahabat Anshar yang dinasihati saudaranya itu dianggap terlalu pemalu. Sifat malunya dianggap menghambatnya untuk menuntut hak atau berinteraksi secara tegas dalam urusan tertentu. Oleh karena itu, saudaranya menasihati agar ia mengurangi rasa malunya.
Melihat hal ini, Rasulullah ﷺ menegur sahabat yang menasihati itu. Nabi memerintahkan, "Biarkanlah dia," karena ia memiliki sifat mulia yang tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya, sifat malu itu harus dijaga dan dilestarikan.
Penjelasan hadis
Berdasarkan hadis ini, berikut beberapa poin penting tentang makna malu dalam Islam:
- Malu adalah bagian dari keimanan. Hadis ini secara tegas menyatakan bahwa malu adalah salah satu cabang keimanan. Keberadaan rasa malu menunjukkan adanya keimanan di dalam hati seseorang. Jika rasa malu hilang, keimanan seseorang juga bisa terancam.
- Malu mencegah dari perbuatan maksiat. Seorang yang memiliki rasa malu akan cenderung menghindari perbuatan buruk atau dosa, baik di depan umum maupun saat sendirian. Ini karena ia merasa malu kepada Allah yang selalu mengawasi, serta malu kepada sesama manusia.
- Malu mendorong pada kebaikan. Rasa malu tidak hanya mencegah dari keburukan, tetapi juga mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan baik dan menjaga martabatnya. Malu yang benar akan menghiasi diri seseorang.
- Rasa malu yang dimaksud adalah rasa malu yang terpuji. Tidak semua rasa malu itu baik. Malu yang terpuji adalah malu untuk melakukan hal yang bertentangan dengan ajaran agama dan norma yang baik, seperti malu berbuat dosa, malu membuka aurat, atau malu mengambil hak orang lain. Sebaliknya, malu untuk menuntut hak, malu belajar, atau malu berdakwah bukanlah malu yang baik.
Contoh teladan Nabi. Rasulullah ﷺ sendiri adalah sosok yang sangat pemalu. Bahkan, beliau lebih pemalu daripada gadis pingitan. Malu beliau adalah malu yang terpuji, bukan malu yang membuat beliau menghindari kebenaran atau tidak menyampaikan risalah.




0 Comments