dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang Islam, manakah yang paling utama? Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Iman kepada Allah dan Rasul-Nya". Lalu ditanya lagi: "Lalu apa?" Beliau menjawab: "Al Jihad fi sabilillah (berperang di jalan Allah). Lalu ditanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Jawab Beliau shallallahu 'alaihi wasallam: "haji mabrur"
Hadis yang mulia ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, di mana sahabat Abu Hurairah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang amalan dalam Islam yang paling utama. Jawaban Rasulullah SAW memberikan kita sebuah peta jalan spiritual yang sangat berharga. Urutan yang beliau sebutkan—Iman kepada Allah dan Rasul-Nya, jihad fi sabilillah, dan haji mabrur—bukanlah sekadar daftar, melainkan hierarki nilai yang mengajarkan kita tentang prioritas dalam beragama.
1. Iman kepada Allah dan Rasul-Nya: Pondasi Utama
Jawaban pertama Rasulullah SAW tidak lain adalah iman. Iman, atau keyakinan yang teguh, adalah pondasi dari seluruh bangunan Islam. Iman bukan hanya sekadar ucapan lisan, tetapi sebuah keyakinan yang meresap ke dalam hati dan terejawantahkan dalam perbuatan. Tanpa iman yang kokoh, semua amal ibadah termasuk salat, puasa, zakat, bahkan haji akan menjadi kosong.
Iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah syahadat, pintu gerbang masuk ke dalam Islam. Ia menuntut kita untuk meyakini keesaan Allah (tauhid) dan meyakini kenabian Muhammad SAW. Ini adalah akidah, dasar keyakinan yang membedakan seorang Muslim dari yang lainnya. Oleh karena itu, tidak heran jika Rasulullah SAW menempatkannya di posisi paling atas sebagai amalan yang paling utama.
2. Jihad fi Sabilillah: Perjuangan di Jalan Allah
Setelah iman, Rasulullah SAW menyebut jihad fi sabilillah. Kata "jihad" sering kali disalahpahami sebagai "perang" semata. Padahal, makna jihad jauh lebih luas. Secara bahasa, jihad berarti "bersungguh-sungguh" atau "berjuang".
Dalam konteks hadis ini, jihad memiliki beberapa tingkatan:
- Jihad an-Nafs (Jihad melawan hawa nafsu): Ini adalah jihad terberat, yaitu perjuangan melawan godaan, malas, dan dorongan negatif dalam diri kita.
- Jihad bi al-Ilm (Jihad dengan ilmu): Berjuang untuk menyebarkan kebenaran, mengajarkan ilmu agama, dan melawan kebodohan.
- Jihad bi al-Maal (Jihad dengan harta): Menyumbangkan harta untuk kepentingan Islam, membantu fakir miskin, dan mendukung dakwah.
- Jihad al-Qital (Jihad dengan berperang): Perjuangan fisik di medan perang, yang hanya dilakukan dalam kondisi tertentu dan di bawah aturan ketat untuk mempertahankan diri, agama, dan kehormatan.
Hadis ini menempatkan jihad di posisi kedua karena ia adalah manifestasi nyata dari iman. Seseorang yang beriman sejati akan rela berjuang dan berkorban—baik dengan jiwa maupun harta—untuk menegakkan agama Allah. Jihad adalah bukti otentik dari ketulusan iman seseorang.
3. Haji Mabrur: Puncak dari Ibadah
Terakhir, Rasulullah SAW menyebut haji mabrur. Haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah, di mana seorang hamba kembali dalam keadaan suci, seperti bayi yang baru lahir. Haji ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah ibadah yang menggabungkan seluruh aspek: fisik, finansial, dan spiritual.
Mengapa haji mabrur berada di posisi ketiga? Karena haji adalah ibadah yang menggabungkan seluruh unsur rukun Islam lainnya. Ia membutuhkan iman yang kuat, perjuangan (jihad) melawan kesulitan perjalanan, dan pengorbanan harta. Haji adalah puncak dari pengabdian seorang hamba yang telah mampu melaksanakan rukun-rukun Islam dan mengaplikasikan nilai-nilai perjuangan dalam hidupnya.
Dari hadis ini, kita belajar bahwa keutamaan amal ibadah memiliki hierarki yang logis. Semuanya berawal dari iman yang kokoh sebagai fondasi. Kemudian, iman itu harus diwujudkan dalam perjuangan atau jihad di berbagai aspek kehidupan. Dan puncaknya, bagi mereka yang mampu, adalah haji mabrur sebagai ibadah komprehensif yang menyatukan seluruh nilai keislaman.
Semoga kita semua dapat terus berusaha memperbaiki iman kita, istiqamah dalam berjihad melawan keburukan, dan, jika diberi kesempatan, meraih haji yang mabrur.




0 Comments