Kisah-kisah dari kehidupan Rasulullah shallallahu
′alaihi wasallam yang tercatat dalam kitab-kitab sahih, seperti Sahih Bukhari, selalu menawarkan pelajaran mendalam yang melampaui peristiwa permukaan. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Sa'd bin Abu Waqash, yang memberikan kita wawasan unik tentang cara Nabi ﷺ mengambil keputusan, mempertimbangkan prioritas, dan memahami realitas batin seseorang.
Hadis ini diriwayatkan:
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Amir bin Sa'd bin Abu Waqash dari Sa'd, bahwa Rasulullah shallallahu
′
alaihi wasallam memberikan makanan kepada beberapa orang dan saat itu Sa'd sedang duduk. Tetapi Beliau tidak memberi makanan tersebut kepada seorang laki-laki, padahal orang tersebut yang paling berkesan bagiku diantara mereka yang ada, maka aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu
′
alaihi wasallam: "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan si fulan? Sungguh aku melihat dia sebagai seorang mu'min." Nabi shallallahu
′
alaihi wasallam membalas: "atau dia muslim?" Kemudian aku terdiam sejenak, dan aku terdorong untuk lebih memastikan apa yang dimaksud Beliau shallahu
′
alaihi wasallam, maka aku ulangi ucapanku: "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan si fulan? Sungguh aku memandangnya sebagai seorang mu'min." Nabi shallallahu
′
alaihi wasallam membalas: "atau dia muslim?" Lalu aku terdorong lagi untuk lebih memastikan apa yang dimaksudnya hingga aku ulangi lagi pertanyaanku. Lalu Nabi shallallahu
′
alaihi wasallam bersabda: "Wahai Sa'd, sesungguhnya aku juga akan memberi kepada orang tersebut. Namun aku lebih suka memberi kepada yang lainnya dari pada memberi kepada dia, karena aku takut kalau Allah akan mencampakkannya ke neraka."
1. Perbedaan antara Mu'min dan Muslim
Inti dialog antara Sa'd dan Rasulullah ﷺ terletak pada perbedaan istilah Mu'min (orang yang beriman) dan Muslim (orang yang berserah diri).
Dalam konteks syariat, Islam adalah ketundukan lahiriah yang mencakup mengucapkan syahadat, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa, dan haji. Sementara itu, Iman adalah keyakinan batin, penetapan hati, dan pembenaran internal yang mendalam terhadap rukun iman.
Ketika Sa'd berulang kali menyatakan bahwa orang tersebut adalah Mu'min—menilai keyakinan batinnya—Nabi ﷺ menjawab, "atau dia muslim?" Jawaban ini menyiratkan:
Pengajaran Fikih: Dalam interaksi sosial dan hukum, kita menilai seseorang berdasarkan apa yang tampak (Islam). Keputusan pemberian sedekah atau perlakuan didasarkan pada manifestasi luar.
Batasan Pengetahuan: Hanya Allah SWT yang mengetahui isi hati seseorang (Iman). Nabi ﷺ, meskipun dibimbing wahyu, mengajarkan batas-batas penilaian manusia.
Ini adalah pelajaran abadi bahwa kita tidak boleh menghakimi keimanan batin seseorang; tugas kita hanya menilai pada tingkat keislaman (ketundukan) yang terlihat.
2. Prioritas Pemberian dan Politik Kenabian
Bagian paling penting dari hadis ini adalah alasan yang diungkapkan oleh Nabi ﷺ di akhir: "Wahai Sa'd, sesungguhnya aku juga akan memberi kepada orang tersebut. Namun aku lebih suka memberi kepada yang lainnya dari pada memberi kepada dia, karena aku takut kalau Allah akan mencampakkannya ke neraka."
Pernyataan ini mengungkapkan sebuah prinsip kepemimpinan dan dakwah yang luar biasa:
A. Menguatkan Hati yang Rapuh
Rasulullah ﷺ memiliki pengetahuan ilahi tentang kondisi hati setiap orang. Orang yang tidak diberi itu, meskipun mungkin terlihat saleh bagi Sa'd, ternyata memiliki keimanan yang belum stabil atau rapuh.
Nabi ﷺ sengaja menahan pemberian dari orang tersebut dan memberikannya kepada orang lain yang imannya lebih kokoh. Mengapa? Karena Beliau khawatir jika orang yang imannya rapuh tersebut diberi, ia akan merasa cukup dan tidak lagi bergantung pada karunia Allah semata, atau merasa imannya tidak lagi perlu diuji. Sementara itu, dengan tidak memberi, Beliau sedang menguji dan 'mencambuk' hatinya, memaksanya untuk berjuang lebih keras untuk imannya, agar ia tidak mudah berpaling dari agama hanya karena urusan duniawi.
B. Mengelola Potensi Fitnah (Ujian)
Sebaliknya, ada orang-orang yang diberikan harta—yang disebut dalam hadis lain sebagai mu'allafati qulubuhum (orang-orang yang dilunakkan hatinya)—untuk mencegah mereka murtad atau menguatkan mereka agar tetap dalam Islam.
Namun, dalam kasus ini, keputusan Nabi ﷺ adalah langkah preventif. Beliau memandang pemberian harta kepada laki-laki tersebut justru akan menjadi fitnah (ujian) yang sangat berat, yang dikhawatirkan akan menjerumuskannya pada kesombongan atau hilangnya ketulusan, dan pada akhirnya, mencampakkannya ke dalam neraka.
Ini menunjukkan betapa berhati-hatinya Rasulullah ﷺ dalam mengelola sumber daya, bukan hanya berdasarkan kebutuhan fisik, tetapi berdasarkan kebutuhan spiritual dan potensi ancaman terhadap keimanan seseorang.
Pelajaran Utama bagi Umat
Hadis ini mengajarkan kita beberapa poin penting:
Hikmah di Balik Keputusan: Keputusan pemimpin (atau pendidik, orang tua) seringkali didasarkan pada pertimbangan jangka panjang dan spiritual yang tidak terlihat oleh mata orang awam. Kita harus memiliki husnuzan (prasangka baik) terhadap hikmah di balik keputusan mereka, terutama jika keputusan itu berasal dari sumber yang terpercaya.
Harta Sebagai Ujian: Karunia duniawi (seperti makanan atau harta) bisa menjadi ujian yang lebih berat daripada kemiskinan. Bagi sebagian orang, kekurangan justru mendekatkan mereka kepada Allah, sementara kelebihan bisa menjerumuskan mereka ke dalam jurang kekufuran.
Kasih Sayang yang Mendalam: Tindakan menahan pemberian dari orang tersebut adalah manifestasi dari cinta dan kasih sayang yang paling mendalam dari seorang Nabi. Beliau memilih jalan yang lebih sulit dan tampak kurang populer demi menyelamatkan jiwa orang tersebut dari akhirat yang kekal.
Akhir kata, hadis ini adalah pengingat bahwa kepemimpinan sejati menuntut pandangan yang melampaui kepentingan sesaat. Itu membutuhkan keberanian untuk membuat pilihan yang sulit, bahkan jika pilihan tersebut terasa tidak adil di mata pengamat, demi menyelamatkan keimanan dan masa depan spiritual seseorang.




0 Comments