Pernahkah Anda bertanya-tanya, di antara sekian banyak ibadah dan amal shaleh, praktik Islam manakah yang dianggap paling utama, paling baik, atau paling mendekati kesempurnaan? Jawabannya telah diberikan langsung oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dalam sebuah riwayat yang ringkas namun mendalam.
Dalam Shahih Bukhari (Kitab Iman), diriwayatkan dari Abdullah bin 'Amru, bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam:
"Islam manakah yang paling baik?"
Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menjawab: "Kamu memberi makan dan memberi salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal."
Hadis ini menyajikan dua pilar utama yang menjadi indikator kualitas keislaman seseorang: kedermawanan (memberi makan) dan persaudaraan (menyebarkan salam).
Pilar Pertama: Kedermawanan Melalui 'Memberi Makan'
Ketika Nabi shallahu ’alaihi wasallam menyebutkan "memberi makan" (ith'amuth-tha'am), makna yang terkandung di dalamnya jauh lebih luas daripada sekadar menyuguhkan nasi. Ini adalah simbol dari kedermawanan, kepedulian sosial, dan menghilangkan kesulitan orang lain.
Memberi makan adalah kebutuhan mendasar manusia. Dengan memenuhi kebutuhan primer ini, kita telah menunjukkan kepedulian tertinggi terhadap martabat kemanusiaan.
Dalam konteks modern, 'memberi makan' bisa diterjemahkan menjadi segala bentuk bantuan yang menghilangkan penderitaan dan menopang kehidupan orang lain, seperti:
- Menyediakan makanan bagi yang kelaparan.
- Memberi bantuan finansial atau modal usaha bagi yang membutuhkan.
- Menyediakan ilmu atau keterampilan yang dapat 'memberi makan' masa depan seseorang.
Indikator Islam yang baik di sini adalah ketika iman tidak hanya berhenti pada ritual pribadi, tetapi meluas menjadi aksi nyata yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Kita tidak akan pernah mencapai Islam yang terbaik jika di sekeliling kita masih ada yang kelaparan atau kesusahan.
Pilar Kedua: Persaudaraan Melalui 'Menyebarkan Salam'
Pilar kedua adalah menyebarkan salam (ifsha'us salam). Nabi shallallahu ’alaihi wasallam secara eksplisit menekankan: "...kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal."
Salam (Assalamu'alaikum) adalah doa yang berarti "Semoga keselamatan terlimpah atas kalian." Menyebarkan salam secara universal, tanpa memandang status, latar belakang, atau tingkat kedekatan, memiliki beberapa makna penting:
- Menghapus Batasan Sosial: Islam yang baik tidak mengenal diskriminasi. Memberi salam kepada yang tidak dikenal menunjukkan bahwa hati kita bersih dari prasangka dan siap menerima siapa pun sebagai saudara.
- Menebar Kedamaian: Salam adalah deklarasi damai. Saat kita mengucapkan salam, kita sedang meyakinkan orang lain bahwa kita datang dengan niat baik, bukan ancaman. Ini adalah fondasi kuat bagi terciptanya masyarakat yang harmonis.
- Memperkuat Ukhuwah: Salam berfungsi sebagai perekat sosial. Amalan ini, meskipun sederhana, secara rutin memperbarui ikatan persaudaraan dan cinta kasih antar sesama Muslim, bahkan dengan orang yang baru ditemui.
Integrasi Iman dan Kemanusiaan
Hadis Abdullah bin 'Amru ini mengajarkan kita bahwa Islam yang paling baik adalah Islam yang terintegrasi antara ritual (hablumminallah) dan sosial (hablumminannas).
Kita mungkin rajin shalat malam dan berpuasa sunah, tetapi kualitas keislaman kita tidak akan sempurna tanpa dua pilar ini:
Kedermawanan yang berakar dari kepedulian (memberi makan).
Persaudaraan yang berakar dari perdamaian dan kerendahan hati (menyebar salam).
Dua amalan ini—memberi makan dan menyebar salam adalah praktik yang paling mudah dilihat, dirasakan dampaknya, dan paling mendasar dalam membangun peradaban yang berakhlak.
Jadikan kebiasaan untuk membantu meringankan beban orang lain dan pastikan salam kita menyentuh setiap orang, baik yang kita kenal maupun yang belum kita kenal. Di sanalah letak keindahan dan keunggulan Islam yang sesungguhnya.




0 Comments