Hadits Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari sering kali menjadi perhatian dan perenungan mendalam. Hadits ini memberikan peringatan keras, khususnya kepada kaum wanita, tentang pentingnya rasa syukur dalam kehidupan berumah tangga.
Hadits yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: "Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita. Karena mereka sering mengingkari."
Ditanyakan: "Apakah mereka mengingkari Allah?"
Beliau bersabda: "Mereka mengingkari pemberian suami, mengingkari kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik terhadap seseorang dari mereka sepanjang masa, lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu maka dia akan berkata: 'Aku belum pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu.'"
(HR. Al-Bukhari, No. 29)
Makna Mendalam dari "Mengingkari Pemberian Suami"
Pernyataan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bahwa mayoritas penghuni neraka adalah wanita bukanlah untuk merendahkan kaum wanita, melainkan sebagai peringatan dan motivasi agar mereka senantiasa memperbaiki diri. Titik tekan dalam hadits ini terletak pada sifat "kufur al-'ashir" dan "kufur al-ihsan", yaitu mengingkari kebaikan suami.
1. Kufur yang Dimaksud Bukan Kufur Akidah
Ketika para sahabat bertanya, "Apakah mereka mengingkari Allah (kafir kepada Allah)?", Nabi shallallahu ’alaihi wasallam segera menjelaskan bahwa "kufur" (ingkar/mengingkari) yang dimaksud di sini adalah "kufur nikmat" atau "kufur kebaikan," bukan kekafiran yang mengeluarkan seseorang dari Islam. Dosa ini dikategorikan sebagai kufrun duna kufrin (kekufuran di bawah kekafiran akbar). Meskipun demikian, ia merupakan dosa besar yang dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam siksa api neraka.
2. Sifat Mudah Melupakan Kebaikan
Inti dari peringatan ini adalah kecenderungan sebagian istri untuk melupakan kebaikan suami yang telah dilakukan bertahun-tahun hanya karena satu atau dua kesalahan yang terjadi. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam memberikan perumpamaan ekstrem: suami berbuat baik sepanjang masa (sepanjang umur), tetapi ketika ada satu kejelekan atau kekurangan yang terlihat, istri dengan mudah berucap, "Aku belum pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu."
Ucapan ini adalah puncak dari ketidaksyukuran (kufur nikmat) yang dapat menghapus pahala kebaikan yang ada. Sikap ini sangat berbahaya karena:
Melukai hati suami dan merusak keharmonisan rumah tangga.
Menunjukkan minimnya rasa syukur kepada manusia, padahal Rasulullah bersabda, "Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Allah."
Menjadi jalan tercepat menuju murka Allah, sebagaimana hadits lain menyebutkan bahwa Allah tidak melihat (dengan pandangan rahmat) kepada istri yang tidak bersyukur kepada suaminya.
Solusi dan Refleksi bagi Wanita Muslimah
Hadits ini sejatinya adalah kunci keselamatan bagi setiap wanita mukminah. Setelah mendengar peringatan tersebut, para wanita pada zaman Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersegera bertanya dan langsung menanggapi dengan amal saleh, yaitu memperbanyak sedekah.
1. Memperbanyak Sedekah dan Ketaatan
Mendengar sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, para wanita harus terdorong untuk:
Memperbanyak amal kebaikan dan sedekah untuk menghapus dosa.
Menjaga lisan dari perkataan yang melaknat, mengeluh berlebihan, dan mengingkari kebaikan suami.
2. Memandang Suami sebagai "Surga atau Neraka"
Terdapat hadits lain yang menegaskan peran sentral suami dalam keselamatan seorang istri:
"Perhatikanlah selalu posisimu terhadap suamimu. Sesungguhnya yang menentukan surga dan nerakamu adalah (sikapmu terhadap) suamimu." (HR. Ahmad)
Hadits ini menunjukkan bahwa keridaan Allah sering kali terkait erat dengan keridaan suami terhadap istrinya, selama suami tidak memerintahkan maksiat kepada Allah. Ketaatan dan rasa syukur kepada suami yang baik menjadi jembatan menuju surga.
Oleh karena itu, bagi setiap Muslimah, peringatan dalam hadits shahih ini harus dipahami sebagai kompas moral untuk senantiasa menumbuhkan sifat qana'ah (merasa cukup) dan syukur (berterima kasih) atas sekecil apa pun pemberian dan kebaikan dari suami. Menjaga lisan, mengutamakan kebaikan suami, dan menghindari sifat mudah mengeluh adalah kunci utama untuk menyelamatkan diri dari ancaman neraka.




0 Comments