Hadits No29 Shahih Bukhari


Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Washil Al Ahdab dari Al Ma'rur bin Suwaid berkata: Aku bertemu Abu Dzar di Rabdzah yang saat itu mengenakan pakaian dua lapis, begitu juga anaknya, maka aku tanyakan kepadanya tentang itu, maka dia menjawab: Aku telah menghina seseorang dengan cara menghina ibunya, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menegurku: "Wahai Abu Dzar apakah kamu menghina ibunya? Sesungguhnya kamu masih memiliki (sifat) jahiliyyah. Saudara-saudara kalian adalah tanggungan kalian, Allah telah menjadikan mereka di bawah tangan kalian. Maka siapa yang saudaranya berada di bawah tangannya (tanggungannya) maka jika dia makan berilah makanan seperti yang dia makan, bila dia berpakaian berilah seperti yang dia pakai, janganlah kalian membebani mereka sesuatu yang di luar batas kemampuan mereka. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka".

Hadits Shahih Bukhari mencatat sebuah teguran kenabian yang sangat fundamental mengenai etika sosial dan perlakuan terhadap sesama, terlepas dari status atau kedudukan. Kisah ini melibatkan salah seorang sahabat senior, Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ’anhu, yang ditegur langsung oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam karena sebuah perkataan yang melukai hati.

Inti Kisah: Teguran atas Penghinaan
Diriwayatkan dari Al-Ma'rur bin Suwaid, ia bertemu Abu Dzar di Rabdzah dalam keadaan beliau dan budak (atau pekerjanya) mengenakan pakaian yang sama (dua lapis). Ketika ditanya alasannya, Abu Dzar menceritakan latar belakang yang mengharukan:

"Aku telah menghina seseorang dengan cara menghina ibunya, maka Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menegurku: 'Wahai Abu Dzar, apakah kamu menghina ibunya? Sesungguhnya kamu masih memiliki (sifat) jahiliyyah.'"

Teguran Nabi ini sangat keras dan langsung menunjuk pada akar masalah: kebiasaan tercela yang berakar dari masa Jahiliyah yaitu merasa lebih unggul dan merendahkan orang lain berdasarkan keturunan atau status sosial. Walaupun Abu Dzar dikenal sebagai sahabat yang zuhud dan lurus, satu kesalahan lisan sudah cukup untuk dicap sebagai sifat yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Tiga Pilar Etika Sosial dalam Islam
Setelah memberikan teguran, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam kemudian menyampaikan ajaran universal tentang perlakuan terhadap bawahan (seperti budak, pekerja, atau siapa pun yang berada di bawah tanggung jawab kita). Hadits ini meletakkan tiga pilar utama dalam etika hubungan antara atasan dan bawahan:
1. Hak Kesetaraan Kebutuhan ("Saudara-saudara Kalian Adalah Tanggungan Kalian")
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menggarisbawahi hakikat hubungan ini: "Saudara-saudara kalian adalah tanggungan kalian, Allah telah menjadikan mereka di bawah tangan kalian." Mereka adalah saudara sesama Muslim yang oleh takdir Allah berada dalam posisi membutuhkan bantuan kita.
Maka, perlakuan yang diwajibkan adalah kesetaraan dalam kebutuhan dasar:
"Maka siapa yang saudaranya berada di bawah tangannya (tanggungannya) maka jika dia makan berilah makanan seperti yang dia makan, bila dia berpakaian berilah seperti yang dia pakai..."
Ini bukan hanya anjuran, melainkan perintah untuk menghilangkan batas-batas kelas sosial dalam urusan sandang dan pangan. Pakaian yang dikenakan majikan haruslah sepadan dengan yang dikenakan pekerjanya, mencerminkan empati dan penghormatan. Inilah yang diimplementasikan oleh Abu Dzar saat mengenakan pakaian dua lapis yang sama dengan pekerjanya.

2. Larangan Membebani di Luar Batas
Pilar kedua adalah perlindungan fisik dan psikologis bagi bawahan. Majikan atau atasan dilarang membebankan pekerjaan yang berada di luar kemampuan atau kekuatan mereka:
"...janganlah kalian membebani mereka sesuatu yang di luar batas kemampuan mereka."
Tujuan Islam adalah terciptanya keadilan dan kasih sayang. Memaksa pekerja melakukan sesuatu yang melampaui batas adalah bentuk kezaliman dan eksploitasi yang dilarang keras.

3. Kewajiban Memberikan Bantuan dan Dukungan
Jika dalam kondisi terpaksa majikan memang harus meminta bawahan melakukan pekerjaan berat atau sulit, Islam mewajibkan adanya bantuan dan partisipasi aktif dari majikan:
"Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka."
Ayat ini mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati adalah melayani, bukan sekadar memerintah. Atasan harus bersedia turun tangan dan ikut terlibat, menunjukkan solidaritas serta meringankan beban yang dipikul oleh pekerja.

Relevansi Universal Hadits Ini
Hadits Abu Dzar ini memberikan pelajaran abadi yang melampaui konteks perbudakan atau sistem kerja masa lalu.
  • Stop Bullying dan Penghinaan: Peringatan "Sesungguhnya kamu masih memiliki (sifat) jahiliyyah" menjadi teguran bagi siapa pun yang merendahkan orang lain—baik karena status ekonomi, suku, warna kulit, atau keturunan (seperti dalam kasus penghinaan terhadap ibu seseorang).
  • Etika Manajemen Modern: Hadits ini adalah dasar bagi etika kerja yang adil. Ia menuntut perusahaan atau atasan modern untuk memastikan bahwa gaji/upah yang diberikan memadai untuk kebutuhan pekerja, dan jam kerja serta beban kerja adalah manusiawi.
  • Kesadaran Posisi: Kita harus menyadari bahwa posisi kekuasaan (sebagai atasan, majikan, atau pemilik) adalah amanah dan ujian dari Allah. Bawahan bukanlah objek untuk dieksploitasi, melainkan saudara yang harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan keadilan.
Pada akhirnya, kisah Abu Dzar mengajarkan bahwa keimanan sejati tercermin dalam perlakuan kita terhadap orang-orang yang berada di bawah kekuasaan kita. Menghilangkan sisa-sisa sifat Jahiliyah dalam hati, dan menggantinya dengan empati serta kesetaraan, adalah jalan menuju kesempurnaan akhlak seorang Muslim.

0 Comments