Hadits No.35 Shahih Bukhari

Jihad di jalan Allah adalah salah satu puncak tertinggi ibadah dalam Islam. Ia bukan sekadar perjuangan fisik di medan perang, melainkan sebuah amal yang didasari keimanan tulus, bertujuan meninggikan Kalimatullah, dan dibalas dengan jaminan langsung dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Keagungan amal ini termaktub jelas dalam sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
“Allah menjamin orang yang keluar (berperang) di jalan-Nya, tidak ada yang mendorongnya keluar kecuali karena iman kepada-Ku dan membenarkan para rasul-Ku, untuk mengembalikannya dengan memperoleh pahala atau ghonimah (harta rampasan perang) atau memasukkannya ke surga. Kalau seandainya tidak memberatkan umatku, tentu aku tidak akan duduk tinggal diam di belakang sariyyah (pasukan khusus) dan tentu aku ingin sekali bila aku terbunuh di jalan Allah lalu aku dihidupkan lagi kemudian terbunuh lagi lalu aku dihidupkan kembali kemudian terbunuh lagi.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu).

Hadits yang mulia ini mengungkapkan tiga poin utama tentang Jihad dan kedudukannya yang istimewa.
1. Jaminan Tiga Pilihan Abadi dari Allah
Bagian pertama hadits ini adalah janji (jaminan) tegas dari Allah subhanahu wa ta'ala bagi setiap hamba yang keluar berjihad dengan niat yang benar. Syarat Pokok: Jaminan ini hanya berlaku bagi mereka yang keluar dengan niat yang murni, yaitu: Iman kepada Allah: Keyakinan yang mendalam kepada keesaan-Nya. Membenarkan para Rasul-Nya: Mengikuti ajaran dan syariat yang dibawa oleh para nabi. Ini menunjukkan bahwa Jihad sejati haruslah dilandasi keimanan dan keikhlasan, bukan karena ambisi dunia, mencari ketenaran, atau fanatisme kesukuan/kelompok. 

Bagi mujahid yang memenuhi syarat niat ini, Allah menjamin salah satu dari tiga hasil yang semuanya adalah kemenangan:
Kembali dengan Pahala: Jika ia kembali dalam keadaan selamat, ia akan membawa pulang pahala yang besar dari sisi Allah, setara dengan ibadah yang tak terhitung nilainya.

Kembali dengan Ghonimah: Jika ia kembali dan mendapatkan harta rampasan perang, ia memperoleh kebaikan dunia yang halal, di samping pahala ukhrawi yang telah dicatat.
Dimasukkan ke Surga: Jika ia gugur (syahid) di medan pertempuran, maka tempat kembalinya adalah Surga yang abadi, tanpa hisab dan tanpa penundaan.
Ini adalah "jaminan menang" dari sisi Allah. Seorang mujahid sejati tidak pernah merugi: hidup mulia, mati syahid.

2. Puncak Kerinduan Sang Nabi
Bagian kedua dari hadits ini menunjukkan betapa tingginya derajat Jihad hingga membuat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkan sebuah kerinduan yang sangat mengharukan:
"Kalau seandainya tidak memberatkan umatku, tentu aku tidak akan duduk tinggal diam di belakang sariyyah..." Ini adalah cerminan dari kecintaan beliau kepada amal yang paling utama. Beliau ingin selalu berada di garis terdepan perjuangan, menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati adalah keteladanan dalam berkorban.

Cita-cita Mati Syahid Berkali-kali:
Pernyataan yang paling menggetarkan hati adalah: "...dan tentu aku ingin sekali bila aku terbunuh di jalan Allah lalu aku dihidupkan lagi kemudian terbunuh lagi lalu aku dihidupkan kembali kemudian terbunuh lagi." Para ulama menjelaskan bahwa kerinduan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk terbunuh (syahid) berkali-kali menunjukkan:
Ketinggian Derajat Syuhada: Beliau sangat menyadari betapa agung dan mulianya derajat syahid di sisi Allah, di mana seorang syahid diampuni semua dosanya (kecuali utang) dan langsung menikmati kenikmatan di sisi-Nya.
Nikmat Bertemu Allah: Syahid adalah jalan tercepat dan termulia untuk kembali kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan meraih keridaan-Nya. Kesempurnaan Pengorbanan: Beliau berharap dapat memberikan seluruh jiwanya—bukan hanya sekali, tetapi berulang kali—sebagai bentuk pengorbanan tertinggi demi meninggikan agama-Nya.
Makna Kontekstual Bagi Umat Hari Ini
Meskipun konteks utama hadits ini adalah peperangan fisik, semangat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bersifat universal bagi umat Islam di setiap zaman.

Jihad sebagai Perjuangan Total:
Para ulama menjelaskan bahwa Jihad memiliki makna yang luas (Jihadul Akbar), mencakup:
Jihad Melawan Hawa Nafsu: Perjuangan terberat seorang muslim adalah melawan bisikan syahwat dan hawa nafsunya sendiri agar tetap istiqamah dalam ketaatan.
Jihad dengan Harta: Mengeluarkan infak dan sedekah untuk kepentingan agama, dakwah, dan sosial.
Jihad dengan Lisan/Pena: Menyampaikan kebenaran, berdakwah, dan membela Islam dengan tutur kata yang baik dan tulisan yang bermanfaat (Jihadul Kalimah).
Jihad Menuntut Ilmu: Berjuang mengerahkan segenap waktu dan pikiran untuk memahami dan mengamalkan ajaran agama.

Siapapun yang berjuang dalam salah satu bidang Jihad ini dengan iman dan mengharap pahala (sesuai syarat hadits), niscaya ia akan mendapatkan sebagian dari keberkahan dan jaminan yang dijanjikan Allah.
Maka, sudah selayaknya kita merenungi: Apakah setiap langkah kita keluar dari rumah hari ini sudah didasari iman kepada Allah dan harapan akan janji-Nya, sehingga kita pun tergolong sebagai hamba yang dijamin kesuksesannya di dunia dan akhirat?

0 Comments