Hadis yang diriwayatkan dari 'Ubadah bin Ash Shamit adalah salah satu riwayat paling mendalam yang mengajarkan kepada umat Islam tentang pentingnya menjaga etika, persatuan, dan dampaknya terhadap keberkahan. Hadis ini juga menjadi cermin bagi setiap mukmin akan kekhawatiran terbesarnya: terhapusnya amal tanpa disadari.
Riwayat yang sanadnya sampai kepada Anas bin Malik dan 'Ubadah bin Ash Shamit ini menceritakan sebuah peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam:
"Telah mengabarkan kepadaku 'Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam keluar untuk menjelaskan tentang Lailatul Qodar, lalu ada dua orang muslimin saling berdebat. Maka Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: "Aku datang untuk menjelaskan Lailatul Qodar kepada kalian, namun fulan dan fulan saling berdebat sehingga akhirnya diangkat (Lailatul Qodar), dan semoga menjadi lebih baik buat kalian, maka itu intailah (Lailatul Qodar) itu pada hari yang ketujuh, enam dan lima."
1. Harga Mahal Sebuah Perdebatan
Inti dari hadis ini adalah sebuah teguran yang sangat halus namun bernilai historis dan spiritual. Lailatul Qadar (Malam Kemuliaan) adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebuah anugerah agung yang ditunggu-tunggu umat Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam telah bersiap untuk memberikan detail tanggal pastinya, sebuah kepastian yang akan sangat memudahkan umatnya.
Namun, kepastian itu "diangkat" oleh Allah SWT—dihilangkan pengetahuan pastinya—hanya karena perdebatan (perselisihan atau pertengkaran) dua orang muslim. Ini menunjukkan betapa besarnya dampak negatif perselisihan dan permusuhan dalam Islam, bahkan dapat menghilangkan keberkahan yang sangat besar. Persatuan dan kedamaian di antara sesama mukmin jauh lebih berharga di mata Allah daripada kemudahan mengetahui malam yang penuh berkah tersebut.
2. Hikmah di Balik "Diangkatnya" Lailatul Qadar
Lalu, mengapa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, "semoga menjadi lebih baik buat kalian"?
Para ulama menjelaskan bahwa diangkatnya kepastian tanggal Lailatul Qadar mengandung hikmah yang luar biasa. Jika tanggalnya pasti diketahui, umat Islam mungkin hanya akan beribadah keras pada malam itu saja. Dengan disamarkannya tanggal pasti, umat Islam didorong untuk:
Bersungguh-sungguh (Ijtihad) Mencari Lailatul Qadar: Umat Islam dianjurkan menghidupkan seluruh malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir (terutama malam ke-27, 25, 23, 29, dan 21) dengan ibadah. Ini berarti umat Islam mendapatkan pahala ijtihad (kesungguhan) dan akumulasi ibadah yang jauh lebih banyak daripada hanya satu malam.
Melatih Konsistensi: Ibadah menjadi sebuah proses yang konsisten, bukan hanya ibadah sesaat.
Dengan kata lain, perdebatan itu memang menghilangkan kemudahan, tetapi menuntun umat kepada amal yang lebih banyak dan lebih besar seiring berjalannya waktu.
3. Kekhawatiran Seorang Mukmin: Terhapusnya Amal Tanpa Sadar
Hadis ini secara implisit menggambarkan kekhawatiran terbesar seorang mukmin: bahwa amal baiknya terhapus atau keberkahannya diangkat karena dosa atau kesalahan yang tidak disadari.
Perdebatan dua orang sahabat itu, meskipun mungkin hanya masalah duniawi atau sepele, telah memicu hilangnya pengetahuan tentang suatu keberkahan besar. Ini memberi pelajaran tajam bahwa:
Kesombongan dan Ego: Perdebatan yang diwarnai ego, ingin menang sendiri, dan tidak mau mengalah dapat merusak hati dan menghilangkan keberkahan dari komunitas.
Pentingnya Menjaga Lisan: Lisan yang tidak terkontrol, yang memicu perselisihan, dapat menjadi penghalang antara seseorang dan rahmat Allah.
Amal Bukan Hanya Ritual: Amalan tidak hanya sebatas salat, puasa, dan sedekah, tetapi juga meliputi akhlak, interaksi sosial, dan menjaga persaudaraan (ukhuwah). Merusak persaudaraan dapat membatalkan atau mengurangi nilai dari ibadah ritual.
Seorang mukmin sejati selalu merasa khawatir terhadap segala perbuatan dan ucapan yang bisa menghapus pahalanya di hari kiamat kelak. Hadis ini mengajarkan kita untuk senantiasa berhati-hati dalam menjaga lisan dan hati, sebab keburukan kecil yang tidak disadari dapat memiliki konsekuensi besar, bahkan hilangnya keberkahan agung seperti pengetahuan akan tanggal pasti Lailatul Qadar.
Oleh karena itu, hadis ini menjadi pengingat abadi bagi kita untuk senantiasa mendahulukan persatuan, menjaga lisan, dan mengikis ego demi meraih keberkahan yang jauh lebih besar.




0 Comments