Hadits mulia dari Shahih Bukhari no. 70 menyajikan sebuah perumpamaan yang mendalam dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai hakikat seorang Muslim. Hadits ini diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, yang berkisah:
"Sesungguhnya diantara pohon ada suatu pohon yang merupakan perumpamaan bagi seorang muslim". Aku ingin mengatakan bahwa itu adalah pohon kurma namun karena aku yang termuda maka aku diam. Maka kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Itu adalah pohon kurma".
Kisah singkat ini, yang juga menunjukkan adab seorang murid di hadapan guru, mengandung pelajaran luar biasa tentang karakter dan keberkahan yang harus dimiliki seorang Muslim.
Pelajaran Berharga dari Diamnya Ibnu Umar
Sebelum mengungkap rahasia perumpamaan pohon kurma, hadits ini mengajarkan kita tentang adab menuntut ilmu. Abdullah bin Umar, meskipun telah mengetahui jawaban yang benar, memilih untuk diam karena menghormati para sahabat yang lebih senior, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab, yang saat itu juga hadir.
Pelajaran: Ilmu harus diiringi dengan adab. Seorang Muslim hendaknya menempatkan diri dengan sopan, menghormati yang lebih tua atau lebih berilmu, serta sabar dalam menunggu kesempatan yang tepat untuk berbicara, meskipun memiliki kebenaran. Sikap diamnya Ibnu Umar tidak mengurangi keilmuannya, melainkan justru menunjukkan ketinggian akhlaknya.
Mengapa Pohon Kurma? (Aspek Keberkahan dan Manfaat)
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian menegaskan bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon kurma (an-nakhla). Para ulama menjelaskan berbagai sisi kesamaan (keberkahan) antara pohon kurma dan seorang Muslim:
1. Manfaat yang Menyeluruh dan Berkelanjutan
Pohon kurma dikenal sebagai pohon yang seluruh bagiannya bermanfaat, dari akarnya yang kuat, batangnya, pelepah, daun, hingga buahnya yang manis dan bergizi. Manfaat ini juga berlangsung sepanjang tahun.
Korelasi dengan Muslim: Seorang Muslim sejati harus menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain, kapan pun dan di mana pun. Manfaatnya bisa berupa ilmu, harta, tenaga, ide, nasihat yang baik, atau sekadar akhlak mulia dan senyum. Keberkahan seorang Muslim tidak hanya pada satu aspek, melainkan meliputi seluruh sisi kehidupannya dan tidak terputus sepanjang waktu.
2. Akarnya Kuat dan Buahnya di Atas
Dalam riwayat lain, pohon kurma diumpamakan sebagai pohon yang akarnya kokoh dan cabangnya menjulang ke langit, selalu berbuah dengan izin Rabb-nya (sebagaimana penafsiran surah Ibrahim: 24-25).
Korelasi dengan Muslim: Kekokohan akarnya adalah keimanan yang tertancap kuat di dalam hati, tidak mudah goyah oleh godaan atau fitnah. Buahnya yang menjulang ke langit adalah amal saleh dan akhlak mulia yang terus menerus naik kepada Allah. Seorang Muslim harus memiliki prinsip dasar (akidah) yang teguh dan amal (cabang) yang tinggi mutunya.
3. Tidak Menggugurkan Daunnya (Selalu Subur)
Berbeda dengan banyak pohon lain yang menggugurkan daun saat musim kering atau dingin, pohon kurma umumnya tetap hijau dan tidak merontokkan daunnya secara total.
Korelasi dengan Muslim: Seorang Muslim sejati tidak pernah kehilangan kebaikannya atau pupus harapannya. Ia senantiasa berada dalam ketaatan, meskipun menghadapi ujian dan cobaan (seperti pohon yang tertiup angin), ia akan kembali tegak dan tetap menampakkan kebaikan serta kesabaran. Imannya tidak luntur, dan amal kebaikannya terus mengalir.
Hadits Shahih Bukhari no. 70 ini adalah pedoman hidup bagi setiap Muslim. Kita diajarkan untuk:
- Beradab dalam menuntut ilmu dan bergaul.
- Kokoh dalam akidah dan keimanan (akar yang kuat).
- Bermanfaat bagi lingkungan, layaknya pohon kurma yang seluruh bagiannya membawa berkah (manfaat yang berkelanjutan).
Semoga kita semua dapat meneladani keberkahan pohon kurma, menjadi Muslim yang akarnya teguh, cabangnya tinggi, buahnya manis, dan manfaatnya dirasakan oleh seluruh semesta.




0 Comments