Teks Matan Hadis
Hadis ini diriwayatkan dalam Kitab Ilmu, Bab: Hifzhul ‘Ilm (Menjaga/Menghafal Ilmu).Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abu Bakr Abu Mush'ab berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibrahim bin Dinar dari Abu Dzi'b dari Sa'id Al Maqburi dari Abu Hurairah berkata:"Aku berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah mendengar dari tuan banyak hadits namun aku lupa." Beliau lalu bersabda: "Hamparkanlah selendangmu." Maka aku menghamparkannya, beliau lalu (seolah) menciduk sesuatu dengan tangannya, lalu bersabda: "Ambillah." Aku pun mengambilnya, maka sejak itu aku tidak pernah lupa lagi."Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al Mundzir berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik dengan redaksi seperti ini, atau dia berkata, "Menuangkan ke dalam tangannya."
Mengupas Rantai Sanad (Perawi)
Hadis ini memiliki jalur sanad yang kuat (sahih) karena termaktub dalam Shahih al-Bukhari. Perawi utamanya adalah:Ahmad bin Abu Bakr Abu Mush'ab: Seorang perawi yang tsiqah (terpercaya).Muhammad bin Ibrahim bin Dinar: Tsiqah, termasuk ulama Madinah.Abu Dzi'b (Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Dzi'b): Seorang ulama besar dan tsiqah.Sa'id Al Maqburi (Sa'id bin Abi Sa'id Al Maqburi): Seorang Tabi'in tsiqah dari Madinah.Abu Hurairah (Abdullah/Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausi): Sahabat Nabi ﷺ yang masyhur.Rantai perawi yang kokoh ini menjamin keaslian riwayat.
Makna dan Pelajaran Utama
Kisah ini adalah salah satu bukti nyata mukjizat kenabian yang dianugerahkan kepada Rasulullah ﷺ. Beberapa poin penting yang dapat diambil dari hadis ini adalah:
1. Pengakuan Kejujuran Abu HurairahAbu Hurairah menunjukkan kejujurannya dengan mengakui kelemahan ingatannya kepada Rasulullah ﷺ. Ini mengajarkan pentingnya transparansi dan kerendahan hati dalam menuntut ilmu. Seorang penuntut ilmu tidak boleh malu mengakui kekurangan dan meminta bantuan kepada guru atau ulama.
2. Mukjizat dalam TindakanTindakan Rasulullah ﷺ yang seolah-olah "menciduk sesuatu dengan tangannya" dan menuangkannya ke dalam selendang Abu Hurairah bukanlah sekadar ritual, melainkan sebuah tindakan fisik yang disertai dengan do'a dan kekuatan mukjizat. Apa yang "diciduk" itu adalah karunia Allah berupa kekuatan hafalan dan ilmu.
3. Konfirmasi IlmiahPengakuan Abu Hurairah, "maka sejak itu aku tidak pernah lupa lagi," adalah konfirmasi langsung dari hasil mukjizat tersebut. Setelah kejadian itu, beliau menjadi perawi hadis terbanyak (sekitar 5.374 riwayat) dan tidak diragukan lagi hafalannya.
4. Nilai Simbolis SelendangSelendang (pakaian) berfungsi sebagai wadah penerimaan. Ini menyimbolkan bahwa seseorang harus mempersiapkan diri (wadah) untuk menerima ilmu atau karunia. Ilmu tidak akan mudah didapatkan tanpa adanya kesiapan hati dan fisik.Pelajaran: Ilmu adalah karunia ilahi. Walaupun kita berikhtiar dengan menghafal, pada akhirnya daya ingat yang sempurna adalah pemberian dan anugerah dari Allah melalui doa dan sebab-sebab yang diperintahkan.
Hadis Shahih Bukhari No. 116 bukan hanya sebuah cerita historis, melainkan pelajaran abadi tentang pencarian ilmu, integritas penuntut ilmu, dan keagungan mukjizat kenabian.Kisah Abu Hurairah dan selendangnya menjadi motivasi bagi umat Islam bahwa karunia Allah berupa daya ingat yang tajam bisa didapatkan, dan hendaknya kita selalu memohon pertolongan-Nya dalam usaha menjaga dan mengamalkan ilmu.




0 Comments