Silsilah Trah Djaja Wikarta (Panjer)
Desa Sigaluh, Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara
Trah Djaja Wikarta merupakan salah satu garis keturunan keluarga yang berakar kuat di Desa Sigaluh, wilayah yang dikenal dengan kehidupan masyarakat agraris, nilai gotong royong, serta tradisi kekeluargaan yang kental di Kabupaten Banjarnegara.
Tokoh utama dalam silsilah ini adalah Djaja Wikarta (alm.), seorang figur yang menjadi titik awal berkembangnya keluarga besar. Anak-anak langsung beliau dikenal sebagai Panjer, yakni generasi inti yang menjadi sumber percabangan keturunan berikutnya.
Sejarah dan Kisah Tiap Panjer
Jejak itu hidup melalui anak-anaknya, para Panjer, yang masing-masing menapaki jalan pengabdian dengan caranya sendiri.
1. Djajasukarta (Sukarto) – Pengabdi Desa
Djajasukarta, yang akrab dipanggil Sukarto, dikenal sebagai sosok yang mengabdikan dirinya untuk masyarakat.
Sebagai mantan perangkat desa di Sigaluh, beliau menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab dan kedekatan dengan warga.
Bersama Ny. Nidah (alm.), beliau membangun keluarga yang sederhana namun kuat dalam nilai kebersamaan.
Dalam dirinya, terlihat jelas bagaimana seorang anak desa tumbuh menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakatnya.
2. Samem Waryoharjo – Pilar Kepemimpinan
Desa
Samem Waryoharjo menjalani kehidupan yang berdampingan dengan kepemimpinan.
Bersama pasangannya, Bp. Sungep (alm.) yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa, mereka menjadi bagian penting dalam perjalanan pemerintahan desa.
Samem, sebagai ibu rumah tangga, memegang peran yang tak kalah besar—
menjaga keluarga tetap utuh di tengah tanggung jawab besar suaminya kepada masyarakat.
Mereka adalah gambaran harmoni antara kepemimpinan dan kekuatan keluarga.
3. Mistem Partodirwiyo – Keteguhan Seorang Petani
Dalam kesederhanaan, Mistem Partodirwiyo menunjukkan arti keteguhan.
Bersama Bp. Partodirwiyo (alm.), beliau menjalani kehidupan sebagai petani—
pekerjaan yang mungkin sunyi dari sorotan, namun penuh perjuangan.
Tanah menjadi saksi kerja keras mereka.
Dari tangan-tangan yang tak kenal lelah itu, tumbuh kehidupan bagi generasi berikutnya.
4. Marjati – Cahaya Pendidikan dan Pengabdian
Marjati (alm.) adalah sosok yang membawa terang melalui pendidikan.
Sebagai seorang guru, beliau tidak hanya mendidik anak-anaknya, tetapi juga generasi di sekitarnya.
Bersama Djemadi (alm.), seorang tentara, kehidupan mereka adalah perpaduan antara ilmu dan pengabdian kepada negara.
Satu mengajar di ruang kelas,
satu menjaga di medan tugas—
keduanya mengabdi dengan cara yang berbeda, namun tujuan yang sama.
5. Sahri – Ketegasan dan Pengabdian
Sahri (alm.) menjalani hidup sebagai seorang tentara—
jalan yang penuh disiplin, keberanian, dan pengorbanan.
Bersama Bp. Darjati (alm.), seorang guru, mereka membangun keluarga yang berakar pada nilai ketegasan dan ilmu.
Di rumah, nilai pendidikan hidup.
Di luar, nilai pengabdian ditegakkan.
6. Saki Harsono, SH – Penegak Keadilan
Saki Harsono, SH (alm.) adalah sosok yang melangkah lebih jauh ke ranah hukum.
Sebagai seorang jaksa, beliau mengabdikan hidupnya untuk menegakkan keadilan.
Bersama Ibu Tri Endang S., beliau membangun keluarga yang mengenal arti tanggung jawab moral dan integritas.
Dari desa, beliau melangkah ke dunia yang lebih luas—
namun tetap membawa nilai-nilai leluhur dalam setiap langkahnya.
7. Rakonah – Pengabdian dalam Ilmu dan Keamanan
Rakonah (alm.), seorang guru, adalah sosok yang mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan generasi.
Bersama Bp. Ali Ansor, seorang polisi, mereka menjalani kehidupan dalam dua bentuk pengabdian yang berbeda.
Satu mendidik dengan ilmu,
satu menjaga dengan hukum.
Keduanya adalah bentuk cinta kepada masyarakat.
Warisan yang Hidup
Tujuh Panjer…
tujuh jalan kehidupan…
Namun satu hal yang sama:
pengabdian.
Dari perangkat desa… kepala desa… petani… guru… tentara… jaksa… hingga polisi
Semuanya adalah bukti bahwa Trah Djaja Wikarta tidak hanya hidup,
tetapi berarti.
Dan hari ini…
kita, anak cucu mereka, adalah kelanjutan dari cerita itu.
Cerita tentang kerja keras.
Tentang pengorbanan.
Tentang keluarga.
Yang berawal dari satu nama…
dan akan terus hidup… sepanjang waktu.
Nilai-nilai yang Diturunkan
Dari seluruh Panjer, terdapat nilai-nilai utama yang menjadi ciri khas Trah Djaja Wikarta:
Gotong royong dan kebersamaan
Kerja keras dan kemandirian
Penghormatan kepada orang tua dan leluhur
Pentingnya pendidikan dan kemajuan hidup
Seiring berjalannya waktu, keturunan Trah Djaja Wikarta terus berkembang dan menyebar ke berbagai daerah. Namun akar keluarga tetap terhubung dengan Desa Sigaluh sebagai asal-usul utama.
Dengan memahami sejarah tiap Panjer, generasi penerus diharapkan tidak hanya mengenal nama dalam silsilah, tetapi juga memahami nilai dan perjuangan yang membentuk keluarga besar ini hingga saat ini.
Dari Panjer ke Generasi Tak Terhitung
Dari tujuh Panjer itu, kini telah lahir puluhan bahkan ratusan cucu dan cicit. Nama-nama seperti Sutarman, Warkinasih, Misbah, Edy Setiawan, Herman Wiyanto, hingga generasi terbaru—semuanya adalah bagian dari satu cerita besar.
Mereka mungkin hidup di tempat yang berbeda, menjalani profesi yang berbeda, dan menghadapi zaman yang berbeda. Namun jika ditarik kembali, semuanya bermuara pada satu titik: Djaja Wikarta.





0 Comments