Hadits No.36 Shahih Bukhari

Bulan Ramadhan adalah musim agung bagi umat Islam untuk berlomba dalam kebaikan. Di antara sekian banyak keutamaan bulan ini, jaminan pengampunan dosa menjadi hadiah terbesar yang dijanjikan Allah subhanahu wa ta'ala bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh.

Jaminan ini termaktub jelas dalam sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: 
"Barangsiapa menegakkan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Hadits ringkas ini mengandung sebuah formula spiritual yang sempurna, terdiri dari dua syarat utama (iman dan ihtisab) dan satu hasil yang luar biasa (maghfirah atau ampunan).

1. Menegakkan Ramadhan: Bukan Sekadar Puasa
Lafaz hadits menggunakan kata "من قام رمضان" (Man qāma Ramadlān), yang secara harfiah berarti "barangsiapa yang menegakkan/menghidupkan Ramadhan." Meskipun secara umum sering dihubungkan dengan Qiyāmul Ramadlān (shalat Tarawih), para ulama menjelaskan bahwa kata 'menegakkan' di sini mencakup seluruh amal ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan, termasuk puasa (shaum) itu sendiri. Hadits serupa juga diriwayatkan untuk puasa Ramadhan, Lailatul Qadar, dan Qiyāmul Ramadlān: "Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala..." (HR. Bukhari & Muslim) "Barangsiapa menegakkan Ramadhan (Tarawih) karena iman dan mengharap pahala..." (HR. Bukhari & Muslim) "Barangsiapa menegakkan Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala..." (HR. Bukhari & Muslim) Ini menunjukkan bahwa pengampunan dosa adalah paket lengkap yang Allah sediakan bagi hamba-Nya yang memanfaatkan Ramadhan secara total, baik di siang hari dengan puasa, maupun di malam hari dengan ibadah tambahan.

2. Syarat Pertama: Īmānan (Karena Iman)
Syarat pertama agar ibadah puasa dan shalat kita diterima dan menghapus dosa adalah Iman. Makna Imānan:
Iman di sini berarti meyakini sepenuhnya akan kebenaran dan kewajiban puasa Ramadhan. Ini adalah keyakinan bahwa:
Puasa adalah perintah Allah yang wajib dilaksanakan. Allah akan memberikan balasan terbaik atas ketaatan tersebut. Iman menuntut adanya pembenaran hati terhadap ajaran syariat. Orang yang berpuasa hanya karena ikut-ikutan tradisi, tuntutan sosial, atau sekadar diet, sejatinya telah kehilangan syarat imānan ini. Iman menjadi fondasi yang membedakan ibadah seorang muslim sejati dari sekadar kebiasaan tahunan.

3. Syarat Kedua: Wa Ihtisāban (Mengharap Pahala)
Syarat kedua adalah Ihtisāban, yang sering diterjemahkan sebagai "mengharap pahala." Inilah inti dari keikhlasan. Makna Ihtisāban:
Keikhlasan Niat: Melakukan ibadah semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji (riya') atau mencari perhatian manusia.
Merasa Ringan: Ihtisab membuat seseorang merasa ringan dalam beribadah, bahkan dalam kesulitan. Ia tidak mengeluh tentang rasa lapar, haus, atau lamanya waktu shalat malam, karena ia tahu bahwa setiap kesulitan itu sedang dihitung sebagai investasi pahala di sisi Allah.
Fokus pada Balasan: Segala daya dan upaya hanya diarahkan untuk meraih balasan (pahala) dan keridaan dari Sang Pencipta.
Dengan menggabungkan imānan dan ihtisāban, seorang hamba telah memastikan bahwa ibadahnya memiliki kualitas tertinggi: Landasan yang benar (Iman) dan tujuan yang murni (Ikhlas/Ihtisab).

4. Hadiah Tertinggi: Ampunan Dosa yang Telah Lalu
Janji Allah bagi mereka yang menyempurnakan dua syarat di atas adalah hadiah yang tak ternilai harganya: "maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

Para ulama berpendapat bahwa pengampunan ini mencakup dosa-dosa kecil. Adapun untuk dosa-dosa besar, ia membutuhkan taubat nasuha (taubat yang sungguh-sungguh) yang memenuhi syaratnya. Namun, perlu dicatat bahwa menjalankan ibadah puasa dan Tarawih dengan kualitas imānan dan ihtisāban merupakan bentuk taubat terbesar yang menjadi sebab diampuninya dosa, baik besar maupun kecil.

Tiga Peluang Maghfirah dalam Ramadhan:
Hadits ini sejalan dengan dua hadits lain yang menjadikan Ramadhan sebagai musim panen ampunan: Puasa Ramadhan: Menghapus dosa. Qiyāmul Ramadhan (Tarawih): Menghapus dosa. Qiyāmu Lailatul Qadar: Menghapus dosa. Sungguh beruntung orang yang berhasil menjalankan ketiga ibadah ini dengan sempurna. Ramadhan adalah kesempatan langka, satu bulan penuh, yang diberikan Allah sebagai "pembersih dosa" tahunan.

Maka, janganlah kita menjadikan Ramadhan sekadar tradisi tanpa ruh. Mari kita jadikan bulan suci ini sebagai momentum tathbīq (pengaplikasian) dua kunci utama ibadah: Iman: Yakinilah bahwa puasa ini adalah perintah agung yang harus ditaati. Ihtisab: Ikhlaskan niat dan hanya berharap pada pahala dan ridha Allah. Dengan menanamkan kedua fondasi ini, kita berharap dapat keluar dari Ramadhan dalam keadaan suci, diampuni dosa-dosa yang telah lalu, dan siap menghadapi sebelas bulan berikutnya dengan lembaran amal yang baru.

0 Comments